Begini lanjutannya… udah lama ga nulis, maklum koneksi sulit..🙂

Kalo secure election itu kan harus memenuhi syarat-syarat election yang lain tuh..
nah kan ada syarat-syarat yang ga’ bisa terpenuhi sebagai akibat pake electronic election. Misalnya saja, seseorang ‘mengintip’ jaringan dan melihat paket-paket yang liwat (istilah lainnya tapping atau nge-spy), nah kalo udah gini gimana caranya dong?

Misalkan ada sebuah protokol election sederhana :
1. Seseorang membungkus pilihannya,
2. Kemudian dia menandatangani dengan private key miliknya
3. Lalu dia enkripsi pake public key milik CTF (mbahnya pusat pemilihan)
4. CTF mendekripsi dengan private key miliknya, kemudian memeriksa apakah tanda tangannya sah (bener-bener user terlegalisasi), then dia masukin tuh suara ke tabulasi suara.

Nah itu diatas contoh pemilihan elektronik,
Kelebihannya,
1. Tidak ada user lain yang bisa ‘ngintip’ isi ‘amplop’ si pemilih,
2. User yang bener-bener sah aja yang bisa milih,
3. Ga’ ada yang bisa ngubah (memodifikasi) pilihan user di ‘jalan’ karena sudah terenkripsi dengan public key CTF
4. User bisa dikasi tau kalo pilihannya udah masuk,

tapi ada juga kekurangannya,
1. Ketahuan dong si user milih apa sama CTF, abis kan ada tanda tangan si user.

Protokol diatas contoh sederhana dari secure election, tapi masih belon sempurna, perbaikannya nanti dalam tulisan selanjutnya yah…

bersambung….

ket. Pada semua artikel secure election yang pernah saya tulis merujuk dari buku Applied Cryptography second edition … karya Bruce Schneier 🙂